Hitam hinggap dalam diam
Tak mau bertanya dia?
karna itu bukan bahasa kegelapan
Jika cukup dengan vonis, kenapa harus ada jeda diantaranya
Tak peduli dia pada rintihan
Tak perlu dia pada tangisan
Toh ketika mati semua menjadi legam
Lentera redup diujung ruang
Sinar temaram coba berpendar
Dalam pengap yang menyekat pekat...dalam hitam
Masih ada harapan?
Toh masih ada TUHAN
"by Abu Layali"
Senin, 01 Desember 2008
PASRAH
Kau meninggalkan aku
Pada angkasa pekat
Tanpa cahaya, secuilpun tiada
Engkau memasungku
Pada cadas keras
Dengan kuat, geliatpun tak dapat
Engkau menguburku
Pada ruang pengap
Tanpa sekat, nafaspun tak kuat
Pada jarak tanpa batas
Engkau semakin menjauh,..
memandang keufukpun kau sudah tak tampak
Membuat ku sendiri kini engkau
Sendiri kaku, bisu, berdebu
Hingga aku berpikir....mati saja aku
"abu Layali"
Pada angkasa pekat
Tanpa cahaya, secuilpun tiada
Engkau memasungku
Pada cadas keras
Dengan kuat, geliatpun tak dapat
Engkau menguburku
Pada ruang pengap
Tanpa sekat, nafaspun tak kuat
Pada jarak tanpa batas
Engkau semakin menjauh,..
memandang keufukpun kau sudah tak tampak
Membuat ku sendiri kini engkau
Sendiri kaku, bisu, berdebu
Hingga aku berpikir....mati saja aku
"abu Layali"
Rindu
Rindu aku........
Pada tempat singgahku di pagi buta...
Rindu aku....
Pada aroma embun yang membelaiku sekejap lalu.....
Rindu aku....
Pada kidung yang iringi bangunku.....
Rindu aku.....
pada kokok ayam yang membawa citaku....
Rindu aku...
pada tanah merah tempat jiwa tengadah.....
Rindu aku.....
Pada hening malam berbingkai ilalang....
akuingin pulang.
"abu layali"
Pada tempat singgahku di pagi buta...
Rindu aku....
Pada aroma embun yang membelaiku sekejap lalu.....
Rindu aku....
Pada kidung yang iringi bangunku.....
Rindu aku.....
pada kokok ayam yang membawa citaku....
Rindu aku...
pada tanah merah tempat jiwa tengadah.....
Rindu aku.....
Pada hening malam berbingkai ilalang....
akuingin pulang.
"abu layali"
Di Sisi Dunia
Langkahi lorong pekat...
Menancap kaki pada tiap jejak
Pelan menitih gelap....
tertindih senyap
Dingin....
menusuk tubuh berjubah lelah....
Beku
Kaku dalam hentakan waktu....
Tak ada waktu berdua denganmu......
Malam sebentar kan berlalu.......
Dan,
belum aku temukan nafasku
untuk berceloteh kepada jiwa
tentang bekal yang kan kubawa
sebagai rehat bersama malaikat
"abu Layali"
Menancap kaki pada tiap jejak
Pelan menitih gelap....
tertindih senyap
Dingin....
menusuk tubuh berjubah lelah....
Beku
Kaku dalam hentakan waktu....
Tak ada waktu berdua denganmu......
Malam sebentar kan berlalu.......
Dan,
belum aku temukan nafasku
untuk berceloteh kepada jiwa
tentang bekal yang kan kubawa
sebagai rehat bersama malaikat
"abu Layali"
Demi Masa
Merepih,
bersama keping keping peluh yang menghujam ke bumi
Menderu,
bersama detak nadi yang luruh dalam keruh
Selangkah.....aku tengadah
Menatap senja yang membawa separuh jiwa
Ah.... aku masih disini
Terpotong waktu dan melaju tak menentu
dalam sekat jagat yang semakin berat
Entah kapan akan pergi....
Tapi.... yang jelas aku sekarat
Nanah kesombongan,
darah kenistaan aliri tubuhku bagai parasit .....meradang, .....pilu dan kelu
Selangkah....aku tengadah
Menatap raga yang kian renta
Kemana rumah.....
kemana aku akan berbaring......
dalam asing aku tak bergeming
tak tahu aku
akan kemana aku...
ini hari saja aku belum tahu pasti
padahal...
sebentar lagi aku mati
"by Abu Layali"
bersama keping keping peluh yang menghujam ke bumi
Menderu,
bersama detak nadi yang luruh dalam keruh
Selangkah.....aku tengadah
Menatap senja yang membawa separuh jiwa
Ah.... aku masih disini
Terpotong waktu dan melaju tak menentu
dalam sekat jagat yang semakin berat
Entah kapan akan pergi....
Tapi.... yang jelas aku sekarat
Nanah kesombongan,
darah kenistaan aliri tubuhku bagai parasit .....meradang, .....pilu dan kelu
Selangkah....aku tengadah
Menatap raga yang kian renta
Kemana rumah.....
kemana aku akan berbaring......
dalam asing aku tak bergeming
tak tahu aku
akan kemana aku...
ini hari saja aku belum tahu pasti
padahal...
sebentar lagi aku mati
"by Abu Layali"
Kidung Hati
Senadung ini milik hati
Membahana ia menari dalam nadi zaman
Nyanyian ini milik sang nurani
Menghentak hentak merobek kekang raga dan liku peradaban
Manabuh gemuruh generang meradang
Melengking jauh menembus langit
Menghujam dalam di kerak bumi
Membelah langit
Mengusir waktu
Karena semangatnya tak kenal nyawa
Kalau ia sudah bekerja
jasad ini tak ada apa-apanya
by Abu Layali
Membahana ia menari dalam nadi zaman
Nyanyian ini milik sang nurani
Menghentak hentak merobek kekang raga dan liku peradaban
Manabuh gemuruh generang meradang
Melengking jauh menembus langit
Menghujam dalam di kerak bumi
Membelah langit
Mengusir waktu
Karena semangatnya tak kenal nyawa
Kalau ia sudah bekerja
jasad ini tak ada apa-apanya
by Abu Layali
Langganan:
Postingan (Atom)
